“semoga istiqomah yah..”kata seorang teman ketika mendapati saya mulai belajar memakai jilbab. Saat itu saya ga tau artinya isiqomah itu apa, yang saya tau istiqomah adalah nama sebuah mesjid di jalan citarum, dan di dekat situ ada warung nasi timbel favorit saya. hehehe..
Semoga istiqomah. dua kata yang sering kita dengar dari sahabat, teman, atau siapapun yang respect sama kita. Saking seringnya, saya sering menanggapinya dengan biasa saja, paling menjawab “makasi..” atau “amiin”, tapi taukah teman istiqomah adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, lebih sulit menjaga keistiqomahan daripada mendapatkan keistiqomahan itu.
Dulu ketika SMP, saya mempunyai sahabat, sebut saja Deani(nama sebenarnya), ya namanya satu huruf berbeda dengan nama saya, kemana-mana kita sering bersama, tak jarang ia main ke rumah, keluarganya telah mengenal saya, dan keluarga saya pun mengenalnya dengan baik (hehehe..kaya ke calon suami aja ya), jadilah Deani dan Diani sepasang sahabat yang sangat akrab, dimana ada Deani disitu ada Diani, dimana ada Diani disitu ada semut (orangnya manis sih kaya gula..)hoho..maap, maap. Day by day, tidak terasa 3 tahun berlalu, saya dan Deani melanjutkan ke SMA yang berbeda, persahabatan kami pun tidak seperti dulu lagi dikarenakan jarak dan waktu yang tidak memungkinkan.
Di SMA saya punya teman-teman baru, tapi tidak ada yang cerewet namun solider seperti Deani, dan suatu hari saat saya pulang sekolah di depan sebuah swalayan, ada seseorang yang memanggil-manggil saya, “Dianiii..”teriak seorang cewe di tengah keramaian, saya pun segera menoleh ke arah suara tadi, tapi yang saya liat hanya seorang perempuan berjilbab putih mendekati saya, “siapa nih, ko kaya familiar??”tanya saya dalam hati sambil berusaha mengingat-ngingat.
“Deaaa???!!”sontak saya kaget. “Iya. Diani, kemana aja?”tanya Deani sambil cipika-cipiki, “iya nih jarang ketemu ya sekarang, waah..dea pake jilbab nih sekarang, jadi makin cantiik..”ya memang dia makin cantik, wajahnya makin terlihat bersih. “Iya nih, sejak SMA dea pake jilbab”jawab Dea dengan semangat, “Ooh..”jawab saya datar tanpa tertarik sedikitpun. Setelah berbincang-bincang cukup lama, kami saling bertukar nomor hp, dan pamitan. Saya pun melanjutkan perjalanan pulang, saya masih tidak percaya Deani memakai jilbab, saya mengenal siapa Deani, “ah, rasa-rasanya dulu Deani sama gilanya sama saya, ko bisa ya sekarang pake jilbab, jilbabnya rapih lagi..”tanya saya dalam hati penuh penasaran. Tapi jauh di dalam lubuk hati saya, ada rasa kagum dan salut pada Deani, kapan ya saya bisa seperti Deani??ah. entahlah..saya pun tidak memikirkannya terlalu serius.
Tiga tahun pun berlalu, sejak pertemuan di depan swalayan itu, saya tidak pernah bertemu lagi dengan Deani, saya pun tidak tau ia kuliah dimana sekarang.
Suatu hari, saya sedang jalan-jalan dengan adik saya, “Teh, lapaar..”rengek adik saya sambil mengajak ke restoran fastfood yang ada di sekitar situ,
Fiuhh..ya sudahlah saya penuhi permintaan adik saya itu. Sambil menunggu makanan datang, saya duduk-duduk sambil melihat ke sekeliling restoran itu, dan saya kaget disana ada seorang perempuan, wajahnya familiar sekali, saya pun mendekatinya, “Eh, deani ya??”tebak saya ragu-ragu, “E..eh..i..iya, diani ya?”jawab Deani tak kalah kagetnya dengan saya, “Hmm..udah lama kerja disini dey?”tanya saya yang entah kenapa langsung canggung, “lumayan, sejak lulus SMA, dea mau kerja dulu, baru deh nanti kuliah..” jawab Deani yang juga keliatan canggung. “Oo..gitu ya..wah, subhanallah ya”ada rasa salut pada Deani, namun ada pertanyaan besar yang ingin saya tanyakan pada Deani, pertanyaan yang mungkin tadi membuat saya dan Deani sama-sama canggung.
“Kemanakah jilbabmu yang dulu rapih itu dey?”namun pertanyaan ini hanya sebatas dalam tenggorokan, tidak saya lontarkan. Kami tidak berbincang terlalu lama, karena Deani harus kembali bekerja. “Aah, apa karena tuntutan pekerjaan kah ??”sesal saya dalam hati.
Sekarang boleh kita berjilbab, boleh kita solat 5 waktu, boleh kita puasa senin pahing kamis wage (loh??), tapi minggu depan? bulan depan? taun depan?who knows?who can guarantee??rasanya sulit jika tanpa keistiqomahan, tanpa keistiqomahan mungkin saya udah terjun ke dunia sinetron(iya, perannya jadi pembantu rumah tangga cocok!!hehehe)
Semenjak saat itu saya memahami penting arti sebuah keistiqomahan.
Sesuatu yang sangat mahal harganya kawan.
-----------
Diani Chandra
ASSALAMU'ALAIKUM WAROHMATULLAHI WABAROKATUH. . . . . !!!
Welcome my Blog's
Selasa, 03 Agustus 2010
Bila Aku Jatuh Cinta
Allahu Rabbi aku minta izin
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Jangan biarkan cinta untuk-Mu berkurang
Hingga membuat lalai akan adanya Engkau
Allahu Rabbi
Aku punya pinta
Bila suatu saat aku jatuh cinta
Penuhilah hatiku dengan bilangan cinta-Mu yang tak terbatas
Biar rasaku pada-Mu tetap utuh
Allahu Rabbi
Izinkanlah bila suatu saat aku jatuh cinta
Pilihkan untukku seseorang yang hatinya penuh dengan
kasih-Mu
dan membuatku semakin mengagumi-Mu
Allahu Rabbi
Bila suatu saat aku jatuh hati
Pertemukanlah kami
Berilah kami kesempatan untuk lebih mendekati cinta-Mu
Allahu Rabbi
Pintaku terakhir adalah seandainya kujatuh hati
Jangan pernah Kau palingkan wajah-Mu dariku
Anugerahkanlah aku cinta-Mu...
Cinta yang tak pernah pupus oleh waktu
Amin !
Label:
Artikel Islami
Arti Cinta...
Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan yang hangat yang muncul ketika saya bersender di bahunya yang bidang.
Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan2 saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.
Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini", jawab saya.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?"
Seseorang berkata, 'mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit' dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya.
Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia berkata, " Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan :
Sayang, "Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.
"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu."
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi "aneh". Saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk menyembuhkan kebosananmu."
"Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah, menceritakan warna-2 bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu."
Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali.
"Dan sekarang sayangku kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu?"
Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.
Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui saya harus melupakan "bunga" itu sendiri.
Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian.
Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui.
Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati berdiri dan itulah kehidupan kita.
Tiga tahun dalam masa kenalan dan bercumbu, sampai sekarang, dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus mengakui, bahwa saya mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan2 saya mencintainya pada waktu dulu, telah berubah menjadi sesuatu yang melelahkan.
Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-2 sensitif dan berperasaan halus, saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Dan suami saya bertolak belakang dari saya, rasa sensitifnya kurang, dan ketidakmampuannya untuk menciptakan suasana yang romantis di dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan saya tentang cinta.
Suatu hari, akhirnya saya memutuskan untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, yaitu saya menginginkan perceraian.
"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.
"Saya lelah, terlalu banyak alasan yang ada di dunia ini", jawab saya.
Dia terdiam dan termenung sepanjang malam dengan rokok yang tidak putus-putusnya. Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang saya bisa harapkan darinya?
Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?"
Seseorang berkata, 'mengubah kepribadian orang lain sangatlah sulit' dan itu benar, saya pikir, saya mulai kehilangan kepercayaan bahwa saya bisa mengubah pribadinya.
Saya menatap dalam-dalam matanya dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan untukmu, jika kamu dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya. Seandainya, katakanlah saya menyukai setangkai bunga yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"
Dia berkata, " Saya akan memberikan jawabannya besok."
Hati saya langsung gundah mendengar responnya.
Keesokan paginya, dia tidak ada di rumah, dan saya melihat selembar kertas dengan coret-2an tangannya di bawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan :
Sayang, "Saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."
Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya kembali.
"Kamu hanya bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-2 saya supaya saya bisa menolong untuk memperbaiki programnya."
"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa masuk mendobrak rumah, membukakan pintu untukmu."
"Kamu suka jalan-2 ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-2 baru yang kamu kunjungi, saya harus memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."
"Kamu selalu pegal-2 pada waktu "teman baikmu" datang setiap bulannya, saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."
"Kamu senang diam di dalam rumah, dan saya kuatir kamu akan jadi "aneh". Saya harus memberikan mulut saya untuk menceritakan lelucon-2 dan cerita-2 untuk menyembuhkan kebosananmu."
"Kamu selalu menatap komputermu dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya sehingga ketika nanti kita tua, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."
"Saya akan memegang tanganmu, menelusuri pantai, menikmati sinar matahari dan pasir yang indah, menceritakan warna-2 bunga kepadamu yang bersinar seperti wajah cantikmu."
Juga sayangku, saya begitu yakin ada banyak orang yang mencintaimu lebih dari saya mencintaimu. Saya tidak akan mengambil bunga itu lalu mati."
Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur dan saya membaca kembali.
"Dan sekarang sayangku kamu telah selesai membaca jawaban saya, jika kamu puas dengan semua jawaban ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana dengan susu segar dan roti kesukaanmu?"
Saya segera membuka pintu dan melihat wajahnya yang penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti.
Oh, saya percaya, tidak ada orang yang pernah mencintai saya seperti yang dia lakukan dan mengetahui saya harus melupakan "bunga" itu sendiri.
Itulah hidup, atau boleh dikatakan, cinta, ketika seseorang dikelilingi dengan cinta, kemudian perasaan itu mulai berangsur-angsur hilang dan ketika kita mengabaikan cinta sejati yang berada diantara kedamaian dan kesepian.
Cinta menunjukkan berbagai macam bentuknya, bahkan dalam bentuk yang sangat kecil dan dangkal, atau bahkan tidak punya bentuk, bisa juga dalam bentuk yang tidak ingin kita ketahui.
Bunga, saat-saat yang romantis hanyalah bentuk awal dari hubungan. Diatas semua ini, pilar cinta sejati berdiri dan itulah kehidupan kita.
Label:
Artikel Bebas,
Artikel Islami
Air Mata ...
Begitu dingin sore ini, seharusnya aku dapat menuai senyuman dan tawa maupun canda di tempat ini. Tawa riang, mungilnya suara – suara yang menggemaskan. Hmmm, ternyata tetap saja tak mampu mengusir segala keresahanku. Senyuman mereka mungkin setidaknya dapat menghilangkan kepenatanku. Pertanyaan yang kritis tapi tetap polos, :) …......
Ku lihat langit mendung membingkis keindahan senja yang biasanya ada. Suasana begitu dingin dan sepi. Sementara sorak ramai mengusik sekitarku. Bak lagu Dewa “kosong....” Seketika aku tak dapat bernafas kala mengingat dan merasakan perasaan itu hadir lagi. Seperti badai angin yang begitu besar telah menghempas keras dalam dadaku. Sesak. Haruskah aku menangis lagi? Sementara bilik – bilik kerinduan tak akan cukup tertawarkan oleh itu. Ya Tuhan.. tolong aku.
Terkadang begitu ingin aku berlari, pergi sejauh mungkin dari keberadaanku saat ini, meninggalkan apapun yang ada di sini. Dan tak mau aku sisakan apa yang sudah aku lewatkan. Akan tetapi tak bisa, aku tak bisa. Semua terekam jelas pada bayangan dan ingatanku. Kenangan. Yah, itulah kenangan. Namun bukankah sikap meninggalkan sesuatu hal yang harus kita selesaikan, kita tuntaskan dan berpura tak peduli atau acuh itu hanya akan dilakukan oleh seorang pengecut / pecundang? . Ku rasa aku tidak mau memantaskan diriku dengan sebutan itu. Tidak, insya Allah tidak.
Kehidupan mempunyai jalur sendiri...
dimana ada hitam dan putih, dimana ada beragam warna yang mengentaskan segala asa dan rasa. Bagaimanapun bentuk dan rupa, kehidupan bersama ujian ada tugas dari-Nya. Tidaklah manusia diciptakan untuk juga menjalankan amanahnya? Semua adalah pemimpin mulai dari dan untuk dirinya maupun bersama. Dan dalam berbagai kehidupan ini ada bermacam pilihan, dimana keputusan dalam pilihan itu membawa resiko dan tanggung jawab. Yah, dan di situlah tanggung jawab penuhku sebagai manusia yang diciptakan-Nya, ku harus lebih paham. Aku tahu, aku tak punya kekuasaan apapun dalam kehendakku, karena aku bukan siapa -siapa di sini, bukan dunia yang kejam jika saja selalu kepahitan yang aku telan, Tuhan tidak akan mungkin mendzalimi hamba – hamba-Nya. Berfikir saja jika ada ujian dan cobaan karena Tuhan maukan kita lebih menjadi pribadi yang handal dan kuat , lebih kuat lagi dalam kehidupan. Insya Allah.
Namun memang, semua itu beratlah adanya untuk dijalankan. Keikhlasan, tak dapat kita lakukan dengan sekejap dan instan. Terkadang kesakitan dan luka – luka ini akan terbiarkan dengan berjalannya waktu hingga itu menjadi keikhlasan yang terurai dan menghambar bersama masa – masa yang berlalu dari hadapan kita.
Kadang aku berfikir saat aku benar - benar lelah dan tertekan ku coba berfokus pada keinginanku betapa inginya aku dapat lebih tulus untuk menjalankan semua ini, jika saja tiada tempat untukku melabuhkan kasih sayang dan cinta, bukankah ada Tuhan? Ada Allah SWT yang selalu ada untukku, walaupun tak mampu aku mengingkari aku butuh seseorang yang dapat berbagi suka duka denganku dengan ikatan yang halal.hmm ya ya ya,
Kondisi yang menekan sering menjadikan aku bersuara dalam hati “ biarkan saja yang menyakiti bersama hati dan hak mereka, dan inilah ujian kesabaran yang sebenarnya, bukankah ikhlas itu tak akan pernah kita ketahui dimana ujungnya karena itu rahasia Allah dan hamba-Nya yang telah diridhoi-Nya. Sekalipun memberikan yang terbaik, kadang tak kebaikan pula yang ku dapat, dan meskipun aku berusaha untuk menjaga dan mengamalkan kejujuranku dengan pengertian demi pengertian tapi ternyata masih ada dusta yang dapat melukaiku tanpa rasa peduli. Atau bahkan dapat menghancurkan utuhnya percayaku. Tak kan berhenti saja di situ, masih ada lagi, tetapi karena kasih sayang-Nya, cinta-Nya mengajarkan aku untuk memaafkan. Mungkin itulah kenapa aku merasakan betapa pedulinya aku pada jiwa – jiwa yang selalu saja menyakitiku. Mereka tak akan pernah tau, mungkin untuk sekarang, namun ku yakin sebuah kesabaran dengan sabar yang baik, itu pasti akan terasa. Bukankah aku pernah mengucap “ apapun yang dari hati, akan tersampai pula pada hati”. Rasanya memang kadang menyedihkan, karena aku seperti menghibur diriku sendiri, meleram keresahanku dan gelisahku. Padahal itu tak mudah. Bagaimana aku dapat berkata itu gampang? Jika saja aku selalu belajar dari apa yang telah aku dapatkan hari ini. Sementara semua juga butuh waktu untuk mencernanya, masya Allah walhamdulillah ala kuli hal.
Aku dapat menangis, karena aku manusia, tentu saja tambahannya karena aku ini wanita.
Akan tetapi air mata bukan segalanya di atas pusara yang pedih ini.
Duka tak dapat menutup nestapa dan hampa.
Semua menjadikan aku belajar lebih bijaksana dalam segi sudut pandang pun juga pemahaman. Alhamdulillah.
Tuhan Maha Adil, Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Dan Dia selalu mempunyai cara untuk menyampaikan kecintaan-Nya kepada hamba-Nya.
Ujian yang besar, mungkin dapat mengahncurkan segala impian, tapi bukankah bisa saja apa yang tidak kita sukai itu adalah pesan kasih sayang-Nya, dan apa yang kita sukai dan kita bisa sakit di dalamnya itu pun karena Tuhan juga tak ingin kita menemukan kesalahan yang sama. Selalu ada cinta dari-Nya dalam bentuk apapun yang Ia suguhkan pada kita. Allahu Akbar..., betapa dahsyatnya rasa ini.
Dari sisa kehancuran itu, ku berfikir bahwa Tuhan akan menciptakan seseorang yang “besar” yang tegar, dan yang kuat, dan itulah pilihan-Nya, wallahu Alam. Memang pedih di saat kita butuh seseorang yang mampu menopang kita dalam kerapuhan namun itu tidak ada, atau bahkan mereka tak peduli pada kita, tapi mungkin juga dari situ aku juga merasa, bahwa aku ini milik Dia seutuhnya. Tuhan pun selalu merindukan kita yang merintih meminta dan berdoa hanya pada-Nya. Terkadang tak jarang prasangka curiga mampir dalam hati, tapi setelahnya, ku coba berbalik lagi berkata pada hatiku sendiri, perlahan ku kikis serabut hitam dalam hulu putihku, dan belajar bertahan untuk lebih percaya,
“ sesungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan, sesudah kesulitan adan kemudahan” Subhannallah.., Walhamdulillah.
Tiada yang berkurang sampai hari ini, bagi jiwa – jiwa yang pernah mengahncurkanku, yang sempat menghempaskan aku dalam jurang yang paling.....dalam, sekalipun hantaman keras itu membuat hatiku membiru karena kepalsuan, dan membuat aku terbaring lemah dalam panjangnya kebisuan, Sungguh Maha Besar Allah yang telah memberikan kasih sayang dan pengertian yang tulus padaku. Hingga aku dapat mengatakan “ dan karena cinta itu memaafkan..., menerima, mengsisi, dan juga mengerti”
Sekarang mungkin lebih tepatnya adalah untuk bersyukur, bahwa aku.. ataupun kita dapat mencintai, dan tak dapat membenci seseorang yang kita sayangi walau itu sungguh terasa sakit.
Sakit dalam mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah bukti kesungguhan dari hati dan nurani yang mau mengerti dan memahami. Mungkin terasa pedih bak luka yang tersiram oleh air garam yang asin, ….......sakit. Perih sekali. Akan tetapi itulah kejujuranku, itulah hatiku, itulah nuraniku, jangan pernah salahkan perasaan yang putih ini. Inilah kesiapan, dan kebersediaan untuk rasa itu, mencintai. Mencintai membuat kita belajar dewasa dan mengerti. Hanya akan ada jiwa dan yang tulus yang dapat mengerti..., ketika pengertian itu tak berpihak padanya, ketika harus sabar dalam keinginannya, saat terpaksa untuk menunggu ketika semua tak dapat dilakukan dengan cepat dan segera, dan kala dapat melihat kesalahan dan suatu permasalahan dari berbagai sisi dengan beberapa penilaian yang telah ia ambil bersama pertimbangan – pertimbangan yang matang, insya Allah.
Aku selalu berharap pada-Nya, semoga tulus ini tidak akan pernah usang karena bala dan derita yang ada, biarkan selalu mekar dalam kegersangan. Dalam air mata ku bahagia, aku sangat bahagia, karena aku dapat mencintainya, mereka, dan aku dapat mengasihi semua jiwa yang pernah melukai dan mencaci, begitu dan betapa mereka itu adalah berharga. Lebih dari harta dan intan permata.
Ku tutup lembaran ini, dengan lirihnya doa ku dalam hati, ku seka perlahan air mata yang sedari tadi kupertahankan untuk tetap dalam kelopaknya.
Ya Allah..., Tuhanku, Sungguh tiada daya dan upaya melainkan dari Rahmat-Mu, dan Pertolongan-Mu.
Sayangi mereka ya Tuhan..., ketika kasih sayangku tak dapat tersampaikan dalam kejauhan mereka sat ini berada,
Jaga mereka untukku, ketika penjagaanku tak mampu melewati batas jarak ruang dan waktu..
dan Cintai mereka, ketika aku nanti tak mampu untuk mencintai lagi di dunia ini.....
Amien.....,
Ratih Septiana
Ku lihat langit mendung membingkis keindahan senja yang biasanya ada. Suasana begitu dingin dan sepi. Sementara sorak ramai mengusik sekitarku. Bak lagu Dewa “kosong....” Seketika aku tak dapat bernafas kala mengingat dan merasakan perasaan itu hadir lagi. Seperti badai angin yang begitu besar telah menghempas keras dalam dadaku. Sesak. Haruskah aku menangis lagi? Sementara bilik – bilik kerinduan tak akan cukup tertawarkan oleh itu. Ya Tuhan.. tolong aku.
Terkadang begitu ingin aku berlari, pergi sejauh mungkin dari keberadaanku saat ini, meninggalkan apapun yang ada di sini. Dan tak mau aku sisakan apa yang sudah aku lewatkan. Akan tetapi tak bisa, aku tak bisa. Semua terekam jelas pada bayangan dan ingatanku. Kenangan. Yah, itulah kenangan. Namun bukankah sikap meninggalkan sesuatu hal yang harus kita selesaikan, kita tuntaskan dan berpura tak peduli atau acuh itu hanya akan dilakukan oleh seorang pengecut / pecundang? . Ku rasa aku tidak mau memantaskan diriku dengan sebutan itu. Tidak, insya Allah tidak.
Kehidupan mempunyai jalur sendiri...
dimana ada hitam dan putih, dimana ada beragam warna yang mengentaskan segala asa dan rasa. Bagaimanapun bentuk dan rupa, kehidupan bersama ujian ada tugas dari-Nya. Tidaklah manusia diciptakan untuk juga menjalankan amanahnya? Semua adalah pemimpin mulai dari dan untuk dirinya maupun bersama. Dan dalam berbagai kehidupan ini ada bermacam pilihan, dimana keputusan dalam pilihan itu membawa resiko dan tanggung jawab. Yah, dan di situlah tanggung jawab penuhku sebagai manusia yang diciptakan-Nya, ku harus lebih paham. Aku tahu, aku tak punya kekuasaan apapun dalam kehendakku, karena aku bukan siapa -siapa di sini, bukan dunia yang kejam jika saja selalu kepahitan yang aku telan, Tuhan tidak akan mungkin mendzalimi hamba – hamba-Nya. Berfikir saja jika ada ujian dan cobaan karena Tuhan maukan kita lebih menjadi pribadi yang handal dan kuat , lebih kuat lagi dalam kehidupan. Insya Allah.
Namun memang, semua itu beratlah adanya untuk dijalankan. Keikhlasan, tak dapat kita lakukan dengan sekejap dan instan. Terkadang kesakitan dan luka – luka ini akan terbiarkan dengan berjalannya waktu hingga itu menjadi keikhlasan yang terurai dan menghambar bersama masa – masa yang berlalu dari hadapan kita.
Kadang aku berfikir saat aku benar - benar lelah dan tertekan ku coba berfokus pada keinginanku betapa inginya aku dapat lebih tulus untuk menjalankan semua ini, jika saja tiada tempat untukku melabuhkan kasih sayang dan cinta, bukankah ada Tuhan? Ada Allah SWT yang selalu ada untukku, walaupun tak mampu aku mengingkari aku butuh seseorang yang dapat berbagi suka duka denganku dengan ikatan yang halal.hmm ya ya ya,
Kondisi yang menekan sering menjadikan aku bersuara dalam hati “ biarkan saja yang menyakiti bersama hati dan hak mereka, dan inilah ujian kesabaran yang sebenarnya, bukankah ikhlas itu tak akan pernah kita ketahui dimana ujungnya karena itu rahasia Allah dan hamba-Nya yang telah diridhoi-Nya. Sekalipun memberikan yang terbaik, kadang tak kebaikan pula yang ku dapat, dan meskipun aku berusaha untuk menjaga dan mengamalkan kejujuranku dengan pengertian demi pengertian tapi ternyata masih ada dusta yang dapat melukaiku tanpa rasa peduli. Atau bahkan dapat menghancurkan utuhnya percayaku. Tak kan berhenti saja di situ, masih ada lagi, tetapi karena kasih sayang-Nya, cinta-Nya mengajarkan aku untuk memaafkan. Mungkin itulah kenapa aku merasakan betapa pedulinya aku pada jiwa – jiwa yang selalu saja menyakitiku. Mereka tak akan pernah tau, mungkin untuk sekarang, namun ku yakin sebuah kesabaran dengan sabar yang baik, itu pasti akan terasa. Bukankah aku pernah mengucap “ apapun yang dari hati, akan tersampai pula pada hati”. Rasanya memang kadang menyedihkan, karena aku seperti menghibur diriku sendiri, meleram keresahanku dan gelisahku. Padahal itu tak mudah. Bagaimana aku dapat berkata itu gampang? Jika saja aku selalu belajar dari apa yang telah aku dapatkan hari ini. Sementara semua juga butuh waktu untuk mencernanya, masya Allah walhamdulillah ala kuli hal.
Aku dapat menangis, karena aku manusia, tentu saja tambahannya karena aku ini wanita.
Akan tetapi air mata bukan segalanya di atas pusara yang pedih ini.
Duka tak dapat menutup nestapa dan hampa.
Semua menjadikan aku belajar lebih bijaksana dalam segi sudut pandang pun juga pemahaman. Alhamdulillah.
Tuhan Maha Adil, Maha Mengasihi dan Maha Menyayangi. Dan Dia selalu mempunyai cara untuk menyampaikan kecintaan-Nya kepada hamba-Nya.
Ujian yang besar, mungkin dapat mengahncurkan segala impian, tapi bukankah bisa saja apa yang tidak kita sukai itu adalah pesan kasih sayang-Nya, dan apa yang kita sukai dan kita bisa sakit di dalamnya itu pun karena Tuhan juga tak ingin kita menemukan kesalahan yang sama. Selalu ada cinta dari-Nya dalam bentuk apapun yang Ia suguhkan pada kita. Allahu Akbar..., betapa dahsyatnya rasa ini.
Dari sisa kehancuran itu, ku berfikir bahwa Tuhan akan menciptakan seseorang yang “besar” yang tegar, dan yang kuat, dan itulah pilihan-Nya, wallahu Alam. Memang pedih di saat kita butuh seseorang yang mampu menopang kita dalam kerapuhan namun itu tidak ada, atau bahkan mereka tak peduli pada kita, tapi mungkin juga dari situ aku juga merasa, bahwa aku ini milik Dia seutuhnya. Tuhan pun selalu merindukan kita yang merintih meminta dan berdoa hanya pada-Nya. Terkadang tak jarang prasangka curiga mampir dalam hati, tapi setelahnya, ku coba berbalik lagi berkata pada hatiku sendiri, perlahan ku kikis serabut hitam dalam hulu putihku, dan belajar bertahan untuk lebih percaya,
“ sesungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan, sesudah kesulitan adan kemudahan” Subhannallah.., Walhamdulillah.
Tiada yang berkurang sampai hari ini, bagi jiwa – jiwa yang pernah mengahncurkanku, yang sempat menghempaskan aku dalam jurang yang paling.....dalam, sekalipun hantaman keras itu membuat hatiku membiru karena kepalsuan, dan membuat aku terbaring lemah dalam panjangnya kebisuan, Sungguh Maha Besar Allah yang telah memberikan kasih sayang dan pengertian yang tulus padaku. Hingga aku dapat mengatakan “ dan karena cinta itu memaafkan..., menerima, mengsisi, dan juga mengerti”
Sekarang mungkin lebih tepatnya adalah untuk bersyukur, bahwa aku.. ataupun kita dapat mencintai, dan tak dapat membenci seseorang yang kita sayangi walau itu sungguh terasa sakit.
Sakit dalam mencintai, mengasihi, dan menyayangi adalah bukti kesungguhan dari hati dan nurani yang mau mengerti dan memahami. Mungkin terasa pedih bak luka yang tersiram oleh air garam yang asin, ….......sakit. Perih sekali. Akan tetapi itulah kejujuranku, itulah hatiku, itulah nuraniku, jangan pernah salahkan perasaan yang putih ini. Inilah kesiapan, dan kebersediaan untuk rasa itu, mencintai. Mencintai membuat kita belajar dewasa dan mengerti. Hanya akan ada jiwa dan yang tulus yang dapat mengerti..., ketika pengertian itu tak berpihak padanya, ketika harus sabar dalam keinginannya, saat terpaksa untuk menunggu ketika semua tak dapat dilakukan dengan cepat dan segera, dan kala dapat melihat kesalahan dan suatu permasalahan dari berbagai sisi dengan beberapa penilaian yang telah ia ambil bersama pertimbangan – pertimbangan yang matang, insya Allah.
Aku selalu berharap pada-Nya, semoga tulus ini tidak akan pernah usang karena bala dan derita yang ada, biarkan selalu mekar dalam kegersangan. Dalam air mata ku bahagia, aku sangat bahagia, karena aku dapat mencintainya, mereka, dan aku dapat mengasihi semua jiwa yang pernah melukai dan mencaci, begitu dan betapa mereka itu adalah berharga. Lebih dari harta dan intan permata.
Ku tutup lembaran ini, dengan lirihnya doa ku dalam hati, ku seka perlahan air mata yang sedari tadi kupertahankan untuk tetap dalam kelopaknya.
Ya Allah..., Tuhanku, Sungguh tiada daya dan upaya melainkan dari Rahmat-Mu, dan Pertolongan-Mu.
Sayangi mereka ya Tuhan..., ketika kasih sayangku tak dapat tersampaikan dalam kejauhan mereka sat ini berada,
Jaga mereka untukku, ketika penjagaanku tak mampu melewati batas jarak ruang dan waktu..
dan Cintai mereka, ketika aku nanti tak mampu untuk mencintai lagi di dunia ini.....
Amien.....,
Ratih Septiana
Label:
Artikel Bebas
Senin, 02 Agustus 2010
Trauma
Jika ku ingat masa itu, mungkin aku tak mau lagi mengendarai Motor, tepatnya hari Ahad tanggalnya lupa tahun 2006. Siang itu sy dan teman sedang menjalankan amanat untuk menyerahkan proposal Maulid Nabi ke salah satu Orang tua dari anggota Remaja MAsjid kami,
setelah sholat Dzuhur kami ber 4 Saya, Sandi, Sanusi, dan Saiman langsung pergi menuju rumah yg di tuju, pada saat kepergian kami, saya melamabaikan tangan pada teman saya, lalu Tepank yg biasa sy sebut namanya dia mengatakan " Coy hati2 di jalan ya'.. klo lo koma, sms w tapi klo lo mati telpon w ya.."
saya hanya senyum dan bilang.." Gila loeee "...
akhirnya kami pergi pada saat itu motor yang saya naiki kecepatannya di atas 60 km/jam saya hanya berdzikir, detik-detik selesai berdzikir motor yang saya naiki mendadak ngeerem.. iiiiiitttttttt......
saya Takbir dengan lantang, dan seketika kami bertabrakan dengan pengendara motor juga.. badan saya terpopntang-panting begitu juga dengan teman saya yg mengendarai jauh dari motor yg kami tumpangi, setelah terhenti, saya tak sadar langsung lari ke tepi jalan dan menahan nafas selama kurang lebih 1 menit.
tiba-tiba teman datanglah Sanusi, dan saiman menghamppiri saya, ia pun kaget karena jarang ada oranmg yg jatuh sampai terpontang-panting langsung lari emenpi, sedangkan Sandi, dia tergeletak di tengah jalan.
dari kecelakaan itu Tangan kananku bengkok, kaki kanan yang lecet-lecet badan terasa remuk, dengan kondisi seperti itu kami terus me;anjutkan amanat yg harus kami sampaikan....
aku sempat tersadar, ternyata Allah masih sayang kepadaku, karena kemungkinan besar yang di bonceng itu luka parah, bahkan mengakibatkan kematian. dan aku hanya beristighafar sebanyak-banyaknya.. hingga samapia saat ini jika ku melihat ada pengendara motor yg kecelakaan maka ku selalu teringat dengan Kejadian yg menimpahku dulu...
kini ku memiliki prinsip jika berkendaraan " pelan tapi samapi di bandingkan cepat tapi mendatangkan maut bagi si pengendaranya "
Ya... Allah maafkan akau karena tlah lalai kepadamu, maafkan aku yaa.. Allah.. Maafkan..
setelah sholat Dzuhur kami ber 4 Saya, Sandi, Sanusi, dan Saiman langsung pergi menuju rumah yg di tuju, pada saat kepergian kami, saya melamabaikan tangan pada teman saya, lalu Tepank yg biasa sy sebut namanya dia mengatakan " Coy hati2 di jalan ya'.. klo lo koma, sms w tapi klo lo mati telpon w ya.."
saya hanya senyum dan bilang.." Gila loeee "...
akhirnya kami pergi pada saat itu motor yang saya naiki kecepatannya di atas 60 km/jam saya hanya berdzikir, detik-detik selesai berdzikir motor yang saya naiki mendadak ngeerem.. iiiiiitttttttt......
saya Takbir dengan lantang, dan seketika kami bertabrakan dengan pengendara motor juga.. badan saya terpopntang-panting begitu juga dengan teman saya yg mengendarai jauh dari motor yg kami tumpangi, setelah terhenti, saya tak sadar langsung lari ke tepi jalan dan menahan nafas selama kurang lebih 1 menit.
tiba-tiba teman datanglah Sanusi, dan saiman menghamppiri saya, ia pun kaget karena jarang ada oranmg yg jatuh sampai terpontang-panting langsung lari emenpi, sedangkan Sandi, dia tergeletak di tengah jalan.
dari kecelakaan itu Tangan kananku bengkok, kaki kanan yang lecet-lecet badan terasa remuk, dengan kondisi seperti itu kami terus me;anjutkan amanat yg harus kami sampaikan....
aku sempat tersadar, ternyata Allah masih sayang kepadaku, karena kemungkinan besar yang di bonceng itu luka parah, bahkan mengakibatkan kematian. dan aku hanya beristighafar sebanyak-banyaknya.. hingga samapia saat ini jika ku melihat ada pengendara motor yg kecelakaan maka ku selalu teringat dengan Kejadian yg menimpahku dulu...
kini ku memiliki prinsip jika berkendaraan " pelan tapi samapi di bandingkan cepat tapi mendatangkan maut bagi si pengendaranya "
Ya... Allah maafkan akau karena tlah lalai kepadamu, maafkan aku yaa.. Allah.. Maafkan..
Label:
Kisah ku
Teringat Dulu
terlihat dari kejauhan seorang Bapak-bapak yang berjenggot tipis menggunakan jaket hitam menghampiri saya
Bapak2> Hai anak muda...
ku yang duduk langsung berdiri dan mengatakan
Saya>" Ada apa pa'
BApak>" knapa kau hanya duduk-saja di sini sedangkan ini sudah waktunya jam sekolah
sambile tersenyum saya mengatakan.
Saya>" eee.... iy pa' sy sedang menunggu mobil yg biasa sy naiki
Bapak>" mang mobil apa
Saya>" metro mini 43 p'
Bapak>" lho' kan itu mobilnya knp g naik..
Saya>" bukannya sy g mo naik p' tapi yg di dalam itu musuh dari sekolahan saya, n lebih baik saya telat dari pada di pukuli tanpa rasa kasihan..
Bapak>" ooo.. bgitu toch,
Bapak>" ko' bisa jadi musuh sich
Saya>" sy juga g tw pa' cuma denger-denger sich emang klw anak STM ke temu sama STM yg lain pasti Tawuran, masalahnya sy g bgitu tau..
Bapak>" wach.. kamu harus hati-hati tuch..
Saya>" iy p' maksih
tiba-tiba Bapak itu menwari saya untuk di bonceng sampai ke sekolah..
Bapak>" oia Bapak mo ke bekasi nich kamu ikut Bapak aja naik motor
Saya>" wach... Makasih bgt nich p' jadi ngerepotin nich..
Bapak>" ah.. gpp, sy lihat kamu Orang baik,
Saya>" eemmm.. tau dari mana klw saya baik..??
Bapak>" sy liat di jaketmu ada tulisan REMAJA MASJID, itu bener kan..??
Saya>" emang bener p' pi ko' bapa langsung bilang klw saya anak baik..??
Bapak>" Ya.. dari kamu bicara juga sy sudah tw, klw kamu lebih baik menghindar dari pada berkelahi kaya gitu..
Saya> " ooo.. itu p'..! emang sich, sy punya Prinsip, sy akan marah klw ada yg menghina Agama, Rasulullah saw, dan keluarga sy.
Bapak>" wach.. hebat donk.. kamu mengaji juga..
saya>" Alhamdulilah p' sy masih mengaji
Bapak>" wach, tenyata masih ada juga ya.. anak STM yg lingkupnya sering bgt Tawuran pi masih ada muridnya yg berakhlak..
dengan senyum lebar saya mengatakan
Saya>" Terima kasih P'..
Setelah lama bercakap sy langsung di antar oleh bapak itu sampai sekolah
Saya>" terima Kasih p' atas tumpangannya..
Bapak>" sama-sama Pemuda..
saya>" oia p' Nama saya RAfsam, nama bapak...???
bapak itu hanya memberi senyuman kaepada saya, saya bingung ko' hanya senyuman saja yach..? dan bapak itu pergi tanpa menengok kebelakang lagi,
Saya>" Ya... Allah berilah Bapak itu pahala dan limpahkanlah Rezeki yang banyak padanya.. Amiin.
setelah saya mendo'akan Bapak itu saya masuk kelas. Waktunya pulang sekolah saya bergegas pulang, pi saya istirahat untuk menunaikan Sholat Dzhur di salah satu masjid di perkampungan dekat sekolah saya, tiba-tiba saya melihat motor yang ku naiki tadi pagi, ternyata Bapak itu sedang mengisi ceramah di masjid itu dan saya kaget, ternyata dia seorang Ustad, setelah selesai sholat saya mengikuti ceramahnya itu.
ceramah selesai saya siap2 untuk pulang kerumah,
Bapak>" Assalammu'alaykum Hai.. Anak muda.
Saya>" Wa'alaykumsalam... wach ternyata bapak seorang DPRD toch, maaf ya pa' klw saya tadi g sopan.
Bapak>" Iy GPP, oia Nak muda baru pulang.
Saya>" Iy p', saya tadi mampir untuk sholat Dzhur, terus ada ceramah jadi sekalian aja dech..
Bapak itu senyum sambil mengelus-elus tangan kiri saya.
Bapak>" sekarang kamu mo kemana lagi..??
Saya>" saya mo pulang p' ada amanat yg blom saya kerjakan.
Bapak>" apa itu..??
Saya>" nyari materi untuk pengajian malam ini p'
Bapak>" wach.. klw begitu cepat pulang jangan telat.
Saya>" iy p'.. Assalammu'alaykum
Bapak>" wa'alaykumsalam..
saya bergegas pergi, sesaat teringat di benakku," astgahfirullah siapa Ustad tadi namanya yach..??". hach.. sudahlah..
Buat Bapak itu/ Ustad yang telah menyelamatkan saya, walau kini ku tak tau namamu, kan selalu ku ingat kau di benakku, dan terima kasih ku padamu Yaa.. Allah yang telah mengirim Bapak/Ustad itu sehingga saya terbebas dari perkelahian antar Pelajar...
Bapak2> Hai anak muda...
ku yang duduk langsung berdiri dan mengatakan
Saya>" Ada apa pa'
BApak>" knapa kau hanya duduk-saja di sini sedangkan ini sudah waktunya jam sekolah
sambile tersenyum saya mengatakan.
Saya>" eee.... iy pa' sy sedang menunggu mobil yg biasa sy naiki
Bapak>" mang mobil apa
Saya>" metro mini 43 p'
Bapak>" lho' kan itu mobilnya knp g naik..
Saya>" bukannya sy g mo naik p' tapi yg di dalam itu musuh dari sekolahan saya, n lebih baik saya telat dari pada di pukuli tanpa rasa kasihan..
Bapak>" ooo.. bgitu toch,
Bapak>" ko' bisa jadi musuh sich
Saya>" sy juga g tw pa' cuma denger-denger sich emang klw anak STM ke temu sama STM yg lain pasti Tawuran, masalahnya sy g bgitu tau..
Bapak>" wach.. kamu harus hati-hati tuch..
Saya>" iy p' maksih
tiba-tiba Bapak itu menwari saya untuk di bonceng sampai ke sekolah..
Bapak>" oia Bapak mo ke bekasi nich kamu ikut Bapak aja naik motor
Saya>" wach... Makasih bgt nich p' jadi ngerepotin nich..
Bapak>" ah.. gpp, sy lihat kamu Orang baik,
Saya>" eemmm.. tau dari mana klw saya baik..??
Bapak>" sy liat di jaketmu ada tulisan REMAJA MASJID, itu bener kan..??
Saya>" emang bener p' pi ko' bapa langsung bilang klw saya anak baik..??
Bapak>" Ya.. dari kamu bicara juga sy sudah tw, klw kamu lebih baik menghindar dari pada berkelahi kaya gitu..
Saya> " ooo.. itu p'..! emang sich, sy punya Prinsip, sy akan marah klw ada yg menghina Agama, Rasulullah saw, dan keluarga sy.
Bapak>" wach.. hebat donk.. kamu mengaji juga..
saya>" Alhamdulilah p' sy masih mengaji
Bapak>" wach, tenyata masih ada juga ya.. anak STM yg lingkupnya sering bgt Tawuran pi masih ada muridnya yg berakhlak..
dengan senyum lebar saya mengatakan
Saya>" Terima kasih P'..
Setelah lama bercakap sy langsung di antar oleh bapak itu sampai sekolah
Saya>" terima Kasih p' atas tumpangannya..
Bapak>" sama-sama Pemuda..
saya>" oia p' Nama saya RAfsam, nama bapak...???
bapak itu hanya memberi senyuman kaepada saya, saya bingung ko' hanya senyuman saja yach..? dan bapak itu pergi tanpa menengok kebelakang lagi,
Saya>" Ya... Allah berilah Bapak itu pahala dan limpahkanlah Rezeki yang banyak padanya.. Amiin.
setelah saya mendo'akan Bapak itu saya masuk kelas. Waktunya pulang sekolah saya bergegas pulang, pi saya istirahat untuk menunaikan Sholat Dzhur di salah satu masjid di perkampungan dekat sekolah saya, tiba-tiba saya melihat motor yang ku naiki tadi pagi, ternyata Bapak itu sedang mengisi ceramah di masjid itu dan saya kaget, ternyata dia seorang Ustad, setelah selesai sholat saya mengikuti ceramahnya itu.
ceramah selesai saya siap2 untuk pulang kerumah,
Bapak>" Assalammu'alaykum Hai.. Anak muda.
Saya>" Wa'alaykumsalam... wach ternyata bapak seorang DPRD toch, maaf ya pa' klw saya tadi g sopan.
Bapak>" Iy GPP, oia Nak muda baru pulang.
Saya>" Iy p', saya tadi mampir untuk sholat Dzhur, terus ada ceramah jadi sekalian aja dech..
Bapak itu senyum sambil mengelus-elus tangan kiri saya.
Bapak>" sekarang kamu mo kemana lagi..??
Saya>" saya mo pulang p' ada amanat yg blom saya kerjakan.
Bapak>" apa itu..??
Saya>" nyari materi untuk pengajian malam ini p'
Bapak>" wach.. klw begitu cepat pulang jangan telat.
Saya>" iy p'.. Assalammu'alaykum
Bapak>" wa'alaykumsalam..
saya bergegas pergi, sesaat teringat di benakku," astgahfirullah siapa Ustad tadi namanya yach..??". hach.. sudahlah..
Buat Bapak itu/ Ustad yang telah menyelamatkan saya, walau kini ku tak tau namamu, kan selalu ku ingat kau di benakku, dan terima kasih ku padamu Yaa.. Allah yang telah mengirim Bapak/Ustad itu sehingga saya terbebas dari perkelahian antar Pelajar...
Label:
Kisah ku
Minggu, 01 Agustus 2010
BIngung
Hari ini ku bingun apa yang harus ku lakukan, di satu sisi ku harus pergi meninggalkan teman2 serta keluargaku untuk bekerja di luar kota, ku sholat lalu meminta kepada Allah apa yg harus ku lakukan, pi di mimpiku ku selalu dekat dengan Keluarga dan teman-temanku, ku terus di impikan dengan mimpi yang sama, namun ku harus beri jawaban tentang tawaran kerja itu, sampai saat ini ku belum ber kejelasan, bahkan teman-teman serta keluarga merelakan ku, ku sadar aku harus bisa meninggalkan mereka asal terus terjalin silaturahmi yg baik, kini ku ingin mencobanya untuk menyetujuinya, tapi ku memiliki amanat yg belum ku selesaikan bahkan belum sama sekali, Huft... ku harus bagaimana lagi..
Ya... Allah jika memang Rezeki ku di Jakarta maka dekatkanlah, namun jika itu di luar jakarta maka bimbinglah hati ini untuk bergerak menujunya, serta mudahkanlah urusan-urusanku ini sehingga aku tak lagi Bimbang, dan ku berharap RidhoMU... Amiiinnn..
Ya... Allah jika memang Rezeki ku di Jakarta maka dekatkanlah, namun jika itu di luar jakarta maka bimbinglah hati ini untuk bergerak menujunya, serta mudahkanlah urusan-urusanku ini sehingga aku tak lagi Bimbang, dan ku berharap RidhoMU... Amiiinnn..
Label:
Kisah ku
Langganan:
Postingan (Atom)